Wacana tentang Koalisi dan Capres-Cawapres 2014 Menurut Pakar / Aktivis (Seri 1)

Oleh BUTONet 2

Forum Gerakan Mahasiswa / Gema 77-78 (mengusulkan):

Bangsa Indonesia butuh pemimpin yang mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan cepat untuk mengatasi ketertinggalan selama pemerintahan lalu. Pemecahan masalah kesejahteraan tak bisa dibebankan kepada kementerian teknis, tetapi diletakkan pada pengambilan kebijakan oleh kepemimpinan tertinggi tingkat nasional.

Oleh karena itu, dengan tantangan memasuki era persaingan global, Indonesia mau tidak mau membutuhkan sosok pasangan presiden dan wakil presiden yang betul-betul paham persoalan dan dapat memecahkan persoalan bangsa tersebut (KOMPAS, Bandung, 7/5/2014).

Catatan:

Hal di atas disampaikan dalam dialog di Bandung, Jawa Barat, Selasa (6/5), yang dihadiri 25 aktivis gerakan mahasiswa se-Indonesia yang tahun 1977-1978 melawan rezim otoriter Orde Baru.

________________________________________________________________

Sjafril Sjofyan (Juru Bicara Forum Gerakan Mahasiswa / Gema 77-78):

Karena para calon presiden berasal dari partai politik (parpol), harapan perubahan dan percepatan ekonomi diletakkan pada wapres. Kalau posisi wapres diberikan ke parpol, kita akan mengulang sejarah (politik) dagang sapi yang cenderung tidak memperhitungkan kepentingan bangsa (KOMPAS, Bandung, 7/5/2014).

________________________________________________________________

Rully Subki (Aktivis Forum Gerakan Mahasiswa / Gema 77-78):

Wapres sebaiknya juga berasal dari professional yang mempunyai keahlian bidang makro, selain juga seorang problem solver serta punya jaringan internasional dan mampu jadi negosiator di forum internasional (KOMPAS, Bandung, 7/5/2014).

________________________________________________________________

Prof Dr Siti Zuhro (Pengamat Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia / LIPI):

Partai politik (parpol) terbukti rata-rata hanya menyiapkan capres daripada cawapres. Meskipun sudah menyebut nama calon, tak mudah menjodohkannya dengan capres yang disodorkan parpol.

Fenomena rumitnya membangun dwitunggal ini diilhami pengalaman pemilihan kepala daerah, yang pasangannya acap kali pecah kongsi. Sebab mereka dipasangkan paksa dan spontan sehingga keduanya tak cocok dan sering benturan(KOMPAS, 7/5/2014).

________________________________________________________________

Arya Budi (Manajer Riset Pol-Tracking Institute):

Kemungkinan kekecawaan para cawapres yang tak terpilih untuk maju (sebagai pendamping capres) bisa terjadi. Namun, seperti pengalaman sebelumnya, dinamika politik Indonesia akhirnya selalu menemukan politik akomodasi, seperti pernah terjadi pada Partai Golkar dan PKS yang akhirnya bergabung ke Partai Demokrat (KOMPAS, 7/5/2014).

__________________________________________________________

Effendi Gazali (Pakar Komunikasi Universitas Indonesia):

Kekecewaan cawapres yang tereliminasi sangat tergantung dari sosoknya (KOMPAS, 7/5/2014).

__________________________________________________________

Sebastian Salang (Pengamat Parlemen):

Kekecewaan bagi cawapres yang tak terpilih itu wajar, tetapi hal itu tak bisa jadi alasan untuk mendendam (KOMPAS, 7/5/2014).

__________________________________________________________

Facebook Comments

Topik Tarkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

eight − 6 =