Wa Ode Zainab ZT

Profil Singkat
(Wa Ode Zainab ZT)
Peradaban SULTRA 4.0

(Notes: Tulisan ini sedang dalam proses editing)


 

Parpol
(plus Logo)

Jabatan/status yang berkaitan dengan Parpol

Pekerjaan dan jabatan
di luar Parpol

 Partai Demokrat (PD).Tahun Keanggotaan : mulai Agustus 2018 – …..

 Tenaga Ahli DPR-RI
(Komisi IV).
Periode : 2014-2019

 

  1. Dosen 
  2. Wapemred (Wakil Pemimpin Redaksi) www.sorotparleme.com
Dalam menyusun konsep, merencanakan strategi, dan melaksanankan proker, Wa Ode Zainab ZT (kalau terpilih menjadi anggota DPR-RI) dibantu oleh tim kuat yang tergabung dalam “Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional” (Forum SPTN), WN-SPC (www.news.sorotparlemen.com), w4c2 (www.world-civilization.com), “Home Physiotherapy”, dan “Pusat Studi Peradaban Buton”/PSP-Buton (lihat “III. SDMP Wa Ode Zainab ZT”), di mana tiga orang konsultan dari institusi-institusi tersebut adalah :

(1) La Ode Zulfikar Toresano (insinyur mesin mantan trainer di HMI untuk tema-tema filsafat dan politik), editor buku “Peran Perempuan Parlemen”, dan penulis aktif bertema “teknologi”, “agama/filsafat”, “kebudayaan” dan “politik”;

(2) Wa Ode Zahra Zilullah (alumni UI, pendiri “Home Physiotherapy”, www.home-physiotherapy.com); dan

(3) La Ode …………………, keluarga Wa Ode Zainab ZT (mantan dosen dan peneliti “Biomedical-Instrumentation” pada perguruan tinggi paling ternama di Indonesia), berusia 28 tahun, yang belum mau dipublikasikan namanya karena sedang mempersiapkan diri memenuhi undangan bekerja sebagai peneliti “Smart Computing” dalam bidang “Deep Learning Computing untuk Analisis dan Interpretasi Data Neuron dari Brain-Imaging ” pada proyek riset Uni Eropa, sekaligus menyelesaikan program “Ph.D by Research”. 

Wa Ode Zainab ZT (Wa Ode Zainab Zilullah Toresano, M.Ud., MA), cucu La Ode Abubakar bin La Ode Bosa, adalah caleg perempuan (muda : 29 tahun) untuk DPR-RI — periode : 2019 – 2024 — dari Partai Demokrat dengan dapil Sultra. Sebagai orang Buton yang lahir dan besar di Jakarta, anak pertama dari La Ode Zulfikar Toresano/Aba Zul (kelahiran Makassar dan alumni SDN 2, SMPN 1, serta SMAN 1 Bau-Bau)1 dan Citrawati Tri Saparini (asal Jawa Tengah) ini bertekad memperjuangkan nasib masyarakat tertindas (Al-Qur’an, 28 : 5) dan keberdayaan Sultra agar “berperadaban digital yang kuat dan maju” (Peradaban Sultra 4.0), yakni peradaban yang ditunjang oleh tiga unsur atau tiang fondasi pancang (pile foundation), yakni potensi keragaman budaya, keadilan, dan kekuasaan yang amanah (Al-Qur’an, 57 : 25), di mana semuanya terkoneksi secara terpadu melalui sistem “Industry 4.0”.

 

Hal yang menarik, meski ia adalah puteri Buton, namun dalam dirinya juga mengalir darah bangsawan multi-etnik :

(1) Jawa-Mongol : keturunan ke-21 dari pasangan Raden Sri Bhatara (dari Kerajaan Majapahit) dan Ratu Wa Kâ Kâ, Raja ke-1 Kerajaan Wolio/Buton (keturunan Kublai Khan dan juga Jayabaya);2
(2) Wakatobi;3
(3) Muna;4
(4) Bugis (Bone); 5
(5) Batauga;6
(6) Lakudo;7 Kolencusu; 8 dan bahkan
(7) Bani Hasyim dari pasangan Sayyidina ‘Ali r.a. dan Sayyidah Fâthimah az-Zahra r.a. bintu Rasulullah Muhammad Saww. 9

Ketetapan Ilahiah inilah yang membentuk kepribadian Mbak Inab (panggilan akrab Wa Ode Zainab ZT) sangat toleran, menghargai perbedaan/keragaman, demokratis, dan memuliakan kemanusiaan serta akhlak. Ia meyakini, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya” (Hadits Rasulullah Muhammad Saww). Menurut dia, memang dalam Al-Qur’an ada apresiasi khusus terhadap faktor keturunan/dzurrihah (QS 2 : 124), tapi itu kan Allah yang menentukan. Lagi pula dalam ayat tersebut keturunan yang zalim tentu akan ada sanksi tersendiri (la yanâlu akhdizzalimin).

“Dalam hubungan itu memang para leluhur Buton tanpa pamrih mempersatukan belahan Tenggara Sulawesi, bahkan menyebarkan dakwah Islamiah hingga empat gelombang, dimulai oleh Sayyid/Habib Abdul Wahid (yang isterinya adalah Wa Ode Solor), keturunan Sayyidina ‘Ali r.a., pada tahun 15….. Namun apakah tidak pantas terhadap keturunan mereka diberikan ruang jika hendak melanjutkan misi menebarkan kebaikan (bukan yang mengatasnamakan kebaikan apalagi kebenaran)?” tanya Mbak Inab. Ia menambahkan, bukankah apresiasi terhadap para keluarga founding fathers/mothers dakwah Islamiah itu (tentu saja yang berakhlak luhur) seakan merupakan jawaban dari ayat Allah, “Nikmat yang mana lagi yang engkau dustakan” (QS ..: ….)? Terlebih lagi, lanjutnya, para founding fathers/mothers telah mencontohkan sikap yang toleran (multi-etnik/agama), demokratis, dan berakhlak mulia (tawadhu) sebagai wujud penghayatan mereka atas ayat Allah, di antaranya, “…. dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku (beragam adat-istiadat dan agama) supaya kamu saling kenal-mengenal (membangun kerjasama konstruktif nan dinamis)” — QS 49 : 13.

Wa Ode Zainab ZT — keturunan Sultan Buton ke-19 : Saqiuddin Dârul ‘Alam/Oputa Sangia/Oputa Manuru (dengan salah seorang menantu beliau : Sayyid/Habib Rabba Alaydrus) — menjelaskan, idealnya target program “Peradaban Sultra 4.0” adalah untuk mengantarkan Sultra memasuki transformasi digital di berbagai sektor (ke arah terbentuknya “Digital Ecosystem” mulai tahun 2030), atau sebagai “peta jalan” (roadmap) terintegrasinya Sultra untuk mengimplementasikan sejumlah program (strategi) dalam memasuki era “Industry 4.0” (mulai di Indonesia : tahun 2015); sebuah era yang ditandai dengan meningkatnya konektivitas dan interaksi antara sesama manusia, manusia dengan mesin, dan mesin dengan mesin. Semuanya akan semakin berkonvergensi (terintegrasi) dengan mengandalkan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi (ICT). Dengan kata lain, lanjut keturunan ke-11 Sultan Saqiuddin (yang membangun kembali Masjid Agung Keraton Wolio sebagai pusat dakwah Gelombang III di belahan tenggara Sulawesi) ini, “Peradaban Sultra 4.0” adalah untuk mereduksi antara lain : (1) Korupsi; (2) Birokrasi pemerintahan yang tidak efisien; (3) Sulitnya akses pembiayaan bagi masyarakat; (4) Tarif pajak yang tinggi; (5) Penyediaan infrastruktur yang kurang memadai; dan (6) Ketidakstabilan kebijakan.

“Bukankah hal tersebut akan memberikan dampak positif yang sangat besar bagi kemajuan Sultra. Dan khusus bagi industri/dunia usaha (UMKM), bukankan akan tercapai efisiensi yang optimal dan didapatkannya kualitas produk yang tinggi?” tanya Mbak Inab bernuansa gugatan.
Di sisi lain, ia juga menyadari (potensi) dampak negatif akibat pemanfaatan ICT, antara lain, munculnya problem dalam hal keamanan digital atau “Cyber Security” (baik data maupun lainnya), padahal ketersediaan fasilitas serta kualitas infrastruktur dan juga standardisasi Cyber Security di negeri ini (apalagi di Sultra) masih belum memadai, meskipun BSSN (Badan Siber dan Sandi Negara) sudah menyepakati kerjasama dengan Kemendagri untuk mengantisipasi serangan siber di daerah-daerah, yakni dengan mengfungsikan sistem “data center” daerah yang terkoneksi langsung ke BSSN.

Sayangnya, harus diakui bahwa pengertian sistem “data center” masih jauh dari apa yang dimaksud dengan “Big Data”, padahal ia (Big Data) merupakan modal utama bekerjanya sistem “Internet of Thing”/IoT (Internet untuk segalanya). Mengutip Aba Zul, panggilan akrab ayahnya, isteri dari M. Ide Murteza Mutahari Asyathri [keponakan Habib Umar Arsal (anggota DPR-RI : 2014 – 2019)] ini menyebutkan, ada lima jenis teknologi utama yang menopang pembangunan sistem Industry 4.0, yaitu : “Internet of Things” (IoT), “Artificial Intelligence” (AI), “Human-Machine Interface”, “Teknologi Robotika dan Sensor”, serta “3D Printing Technology”. 10 Nah, kalau “Big Data” saja masih dianggap sebagai makhluk aneh di negeri ini (apalagi di Sultra), bagaimana pula dengan “Big Data Analitics”, yang tentu saja memerlukan SDM berkualifikasi sangat tinggi? “Sudah siapkah Indonesia, apalagi Sultra?” tantang Mbak Inab, yang juga adalah cucu dari pejuang anti kolonialisme VOC (dan pencetus doktrin “perang gerilya”), Sultan ke-20 dan ke-23 : Himayatuddin/Oputa Yi Kô (….-….. dan …-….).11

***

SAAT dimintai kembali penegasan pengertian soal “Industry 4.0”, Mbak Inab mengingatkan, era “Industry 4.0” merupakan gerbong keempat dari rangkaian perkembangan industri; mulai dari revolusi industri generasi pertama (penggunaan mesin uap), disusul generasi kedua (produksi massal dan pemanfaatan tenaga listrik). Kemudian generasi ketiga (yang diawali dengan penggunaan teknologi otomasi). Lalu meningkat ke tahap revolusi industri keempat (industry 4.0). Tahap — yang ditandai dengan lompatan besar penggunaan ICT — ini bukan saja bermanfaat bagi proses produksi, melainkan juga untuk seluruh rantai (nilai) industri dan aktifitas apa pun yang terkait dengan manusia (bahkan seluruh makhluk hidup). Sehingga antara lain akan melahirkan model pemrosesan yang baru (model bisnis dan tata kelola urusan publik baru) berbasis digital guna tercapainya efisiensi dan peningkatan kualitas produk/layanan.

Mari kita ikuti pemaparan Wa Ode Zainab ZT berikut ini, yang ia elaborasi dengan memberikan tafsir kontekstual atas pemikiran intelektual Iran Dr. Ali Shariati. Secara sederhana, “peradaban” didefinisikan sebagai proses pembentukan kebudayaan dan pencapaiannya. Dengan demikian peradaban bersifat dinamis dan kontekstual. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa misi Kenabian adalah membangun peradaban : “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan Neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Maha Perkasa.” (Al-Qur’an 57 : 25).

Pertama adalah “Kitab”, lalu “Neraca”, dan kemudian “Besi”. Kitab adalah simbol atau representasi KEBUDAYAAN [intelektual/ulil albab (di atas ilmuwan, QS … : …), pendidikan, umat manusia, pemuka masyarakat, dan spiritualitas]. Tugas kaum intelektual dan budayawan adalah meletakkan tiga unsur atau tiang fondasi peradaban (pile foundation/fondasi pancang), membangun konstruksi di atasnya, dan memelihara/merawatnya. Besi bukan urutan berikutnya. Kitab dan Besi tidak boleh berdampingan, karena kitab akan hancur jika berdekatan dengan besi. Besi akan merobek Kitab, menjadi hamba Besi. Perang Dunia I dan II adalah akibat ketidakselarasan dua objek tersebut. Bahkan ketimpangan manusia saat ini adalah akibat kerjasama Kitab dan Besi. Bukankah fasisme adalah anak tidak sah dari perkawinan tak sejodoh antara kitab dan besi? Maka, “kitab” dan “besi” harus dijaga dengan menyekatkan Neraca di antara keduanya.

Neraca adalah lambang KEADILAN (kesataraan, kebenaran, dan proporsionalitas/keseimbangan). Sedangkan Besi adalah simbol POWER/KEKUATAN MATERIAL/KEKUATAN LAHIRIAH (kekuasaan eksekutif/politik, peradaban industri, kekuatan militer, dan kekuatan/kekuasaan individu).

Dalam hubungan itu Mbak Inab kemudian mengutib pendapat Lord Acton,”Power tend to corrupt, the absolute power corrupt absolutely” (kekuasaan cenderung untuk korup, kekuasaan absolut niscaya akan korup secara sempurna).

Neraca mengawal Kitab dari gangguan Besi dan mencegah dominasinya atas Kitab dan umat manusia, bahkan membuatnya menjadi sebuah alat yang jinak dan penurut. Tapi, apa yang dapat dilakukan Kitab dan Neraca tanpa adanya Besi? Tidak ada!!!

Bila Kitab dan Neraca mengambil tempat berdampingan, niscaya Besi siap melayani Kitab dan menaati Neraca. Inilah sebuah peradaban yang kuat dan maju, yang diperlengkapi dengan pengertian (pemahaman/kesadaran), pendidikan, keadilan, kesetaraan, dan kekuatan/kekuasaan (yang amanah).

Bila salah satu dari tiga unsur atau tiang fondasi pancang peradaban tersebut lemah (atau absen), maka warga dalam masyarakat akan hidup menderita dan tidak normal.

Peradaban = Kebudayaan + Keadilan + Kekuasaan

K = [Kebudayaan]+[Keadilan]+[Kekuasaan]
[Peradaban]

K = Kesetimbangan Masyarakat; Masyarakat yang Proporsional; Masyarakat Ideal
(baldathun thayyibatun wa Rabbun ghafur, QS … : …..).

Wa Ode Zainab ZT (SDMP Wa Ode Zainab ZT)

1. Sumber daya institusional yang tersedia :

www.sorotparlemen.com (WN-SPC); www.world-civilization.com (w4c2); Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional (Forum SPTN); Pusat Studi Peradaban Buton (PSP-Buton); dan “Home Physiotherapy” (www.home-physiotherapy.com).

2. Modal material :

Lahan milik keluarga besar yang tersebar di beberapa daerah di Sultra, di mana keluarga besar bisa didorong untuk membangun kerjasama memberdayakan lahan-lahan tersebut untuk kepentingan bersama dan masyarakat. Salah satu model pemberdayaan lahan tersebut adalah membangun kemitraan (syarikah) dengan penyandang dana untuk mendirikan pesantren mahasiswa atau perguruan tinggi yang berkonsentrasi pada studi-studi di bidang : (1) Smart Computing (Industry 4.0/Digital Ecosystem); (2) Kebudayaan dan Keagamaan; dan (3) Kelautan (termasuk industri galangan kapal tradisional, pemanfaatan energi alternatif dari arus laut/angin, dan bioteknologi kelautan).

3. Modal intelektual/keilmuan

  • Pengalaman Wa Ode Zainab ZT di level domestik maupun luar negeri (lihat CV).
  • Dukungan tradisi intelektual dari lingkungan keluarga. Keluarga Mbak Inab berkecimpung di dunia keilmuan dan kebudayaan, yang diwarisi dari kakek (almarhum La Ode Abubakar) dan buyut (almarhum La Ode Bosa). Keduanya adalah sejarawan dan budayawan Buton yang sering menjadi narasumber bagi para ilmuwan dari dalam dan luar negeri, diantaranya School (Universitas Leiden) dan Susanto Zuhdi (UI).
  • Dukungan dari jaringan pertemanan (mayoritas mereka adalah orang-orang terpelajar), baik domestik maupun luar negeri.
  • Arsip Majalah Kebudayaan “Wolio-Molagi”, edisi perdana : Maret 1999 (tidak terbit lagi, tapi dokumen serial penerbitan dari majalah yang didirikan oleh kakek Mbak Inab, La Ode Abubakar, ini masih tersimpan rapih).

4. Jaringan sosial-budaya :

  • Jaringan masyarakat adat Buton yang umumnya adalah bagian dari keluarga besar.
  • Jaringan keluarga yang tersebar di seluruh Sultra.
  • Jaringan pertemanan, baik dari lingkungan almamater sekolah maupun di luar itu.

(Peran sebagai “Kitab” dan “Neraca”)

Atas dasar keterbatasan penerapan “Industry 4.0” seperti disebutkan tadi, Wa Ode Zainab ZT mencoba untuk berpikir realistis dengan menurunkan targetnya (standard pemahamannya) tentang “Peradaban Sultra 4.0”. Dalam artikelnya bertajuk “Gempa di Sultra dan Penciptaan Lapangan Kerja (Local Wisdom Paradigm)”,12 perempuan beranak satu ini menawarkan gagasan literasi kegempaan dan pemberdayaan aneka potensi serta usaha masyarakat lokal (dalam format “terpadu” yang memanfaatkan teknologi modern), sekaligus untuk mengatasi potensi kerusakan yang ditimbulkan gempa.

Ini adalah peran Mbak Inab sebagai Kitab (lihat “II. LPP-VM”), apalagi bila terpilih sebagai anggota DPR. Ia bertekad, bila niat tersebut dikabulkan Allah Swt., selain akan mengoptimalkan perannya sebagai Neraca (DPR) yang akan mengontrol/melunakkan Besi (Pemerintah/Pemda/kekuatan modal ekonomi), juga akan mengambil tanggung jawab sebagai Kitab (intelektual/aktivis).

“Dalam hal ini model-model gagasan pemberdayaan integratif (sebagai ciri khas ‘industry 4.0’) akan terus saya perkenalkan, dengan dukungan sumber daya institusional yang saya miliki (lihat ‘III. SDMP Wa Ode Zainab ZT’),” papar perempuan sulung dari empat bersaudara itu (dari tiga adiknya, dua adalah alumni UI dan satu lagi masih mahasiswa Fak. Ilmu Kelautan di UNDIP). Terlebih lagi, lanjutnya, sudah ada dukungan bantuan dari seorang keluarga saya (mantan dosen dan peneliti “Biomedical-Instrumentation” pada perguruan tinggi paling ternama di Indonesia), berusia 28 tahun, yang belum mau dipublikasikan namanya karena sedang mempersiapkan diri memenuhi undangan bekerja sebagai peneliti “Smart Computing” dalam bidang “Deep Learning Computing untuk Analisis dan Interpretasi Data Neuron dari Brain-Imaging ” pada proyek riset Uni Eropa, sekaligus menyelesaikan program “Ph.D by Research”.

Contoh konkret peran Mbak Inab sebagai Kitab (intelektual), selain menjadi Tenaga Ahli di DPR dan Dosen Filsafat Islam di STFI Sadra (Jakarta), ia juga menjadi editor/penulis aktif di WN-SPC dan mensupervisi WN-SPC dan w4c2 yang didirikan ayahnya (Aba Zul). Dua situs (yang terus dikembangkan dengan konsep “industry 4.0”)13 ini dirancang sebagai lahan persemaian dan konstatasi pemikiran untuk berbagai spektrum kehidupan : kebudayaan, politik, ekonomi, maritim, pertanian, dan sebagainya. Di bidang kebudayaan, misalnya, jika Sultan Saqiuddin membangun kembali Masjid Agung Keraton Wolio sebagai pusat dakwah Gelombang III di belahan tenggara Sulawesi, maka WN-SPC dan w4c2 akan memperkenalkan pemikiran tentang pengembangan/penguatan nilai dari masjid tersebut, di antaranya sebagai mercusuar demokrasi, kebhinekaan, toleransi, kreatifitas, keberdayaan pemikiran, keberdayaan perempuan dan kaum muda milenial,14 serta keadaban (akhlak mulia); yang dimulai dengan membuat dua buku digital (e-book) : “Pancasila Menurut Kerajaan Wolio” dan “Pancasila Menurut Kesultanan Buton” (disusul buku-buku lainnya yang berformat ilmiah15 maupun komik/animasi, di antaranya “Jati Muna sebagai Penopang Peradaban dan Penciptaan Lapangan Kerja” dan “Pacaran Islami ala Buton”) sebagai lapis ideofak (ide dasar).

Sosialisasi pemikiran tersebut kemudian akan dilanjutkan ke level sosiofak (upacara adat/amal ritus) dan artefak (pemaknaan simbol-simbol). Objek garapannya pun akan terus diperluas, sehingga akan dilahirkan “rumusan pemicu” tentang permodelan komputasi untuk pengembangan kebudayaan, maritim, pariwisata, dan seterusnya (yang kemudian semuanya diintegrasikan). Dan jika Mbak Inab (yang adalah keponakan dari Wa Ode Chaerani itu) duduk di DPR-RI, insya Allah, setiap model/rumusan gagasan terpadu itu akan didialogkan dalam WN-SPC.

Dari sini bila dipandang patut ditindaklanjuti, kemudian didesakkan kepada para pengambil keputusan di Sultra (mungkin juga di tingkat nasional) untuk dieksekusi. Bersamaan dengan itu fungsi-fungsi koordinatif terus diperkuat, terutama dengan kalangan LSM, organisasi-organisasi pemuda/mahasiswa (intra dan ekstra kampus), serta berbagai komunitas perempuan dan adat agar mereka juga turut memberikan tekanan-tekanan masif berskala luas, misalnya melalui demonstrasi (yang legal dan konstitusional). Pada titik ini, peran Mbak Inab sebagai Kitab sekaligus Neraca akan semakin meningkat (insya Allah).
“Memang, anggota DPR bukan pemegang anggaran dan pelaksana kebijakan pembangunan. Tapi, jabatan ini berpeluang untuk diperankan sebagai institusi penekan dan koordinatif dalam memperjuangkan aspirasi masyarakat Sultra yang dikemas dalam ‘semangat’ yang berformat Industry 4.0,” ujar Mbak Inab. Terlebih lagi WN-SPC dan w4c2 berada dalam jaringan koordinasinya (Mbak Inab). Bukankah pers merupakan salah satu elemen penting bagi keberdayaan masyarakat dan penegakkan demokrasi (hak-hak publik)?

Singkatnya, jabatan anggota DPR bisa lebih efektif mengkondisikan terbangunnya ruang peradaban digital berbasis kultural (juga keadilan dan kekuasaan yang amanah), di mana masyarakat Sultra dapat hidup rukun, nyaman, berkeadilan, serta mampu berperan aktif dan optimal (di era “industry 4.0”).

***

CICIT dari pasangan La Ode Bosa dan Wa Ode Aisyah [yang banyak memfasilitasi kehidupan para pelajar dari Wakatobi, di antaranya Hugua (mantan Bupati Wakatobi), H. Djunaedi, dan Supardi]16 itu kemudian menegaskan, “Peradaban Sultra 4.0” adalah membangun Sultra dengan sistem yang terintegrasi secara digital dalam semua aspek (lini) kehidupan, sehingga Sultra akan menjadi provinsi yang berperadaban tinggi. Gagasan demikian yang akan didorong sosialisasinya oleh keponakan dari Ahmad Monianse (Wakil Wali Kota Bau-Bau) ini jika ia berhasil terpilih sebagai anggota DPR-RI. Jadi bukan sekadar untuk memenuhi kuota 30 persen keterwakilan perempuan di parlemen.

Oleh karena itu VISI Wa Ode Zainab ZT adalah : “Dengan potensi keragaman budaya, keadilan, dan kekuasaan yang amanah (QS 57 : 25) kita gapai kepuasan hidup (QS 92 : 21), kemuliaan (QS 35 : 10), dan keridhaan Allah (QS 91 : 20) sebagai model Peradaban Sultra 4.0 yang Kuat dan Maju”.

Untuk mencapai visi termaksud, Wa Ode Zainab ZT menetapkan MISI-nya sebagai berikut : “Membangun Peradaban Sultra 4.0 yang Kuat dan Maju di Atas Fondasi Pemikiran dan Amaliah Keragaman Budaya, Keadilan, serta Kekuasaan yang Amanah”.

Kuala Lumpur, dan Tehran

Dari ayah (Aba Zul) — yang sejak tahun 1983 aktif sebagai mentor/trainer di HMI17 — misalnya, Mbak Inab banyak mendapatkan bimbingan tentang metode pembinaan kader/masyarakat dan berpikir sistematis (komprehensif) berspektrum rasionalitas-spriritualitas politik dan filsafat sains, karena ia (Aba Zul) adalah mantan dosen dan peneliti di bidang teknik industri/mesin, mantan Staf Ahli di DPD-RI, serta aktif menulis rubrik “sains dan teknologi”18 (selain juga menjadi Koordinator Forum SPTN, Jakarta).
Hal yang menarik, prestasi Mbak Inab kemudian jauh melebihi ayahnya. Ia bahkan bukan saja aktif dalam sejumlah organisasi atau kegiatan di dalam negeri, tapi juga di luar negeri : Paris, Kuala Lumpur, dan Tehran (sejumlah negara Eropa pun pernah dijelajahinya). (Lihat CV)

***

SEMUA potensi yang melingkupi Mbak Inab itu merupakan anugrah Allah Swt. yang bernilai strategis, terutama untuk menguatkan dan mengimplementasikan gagasan “Peradaban Sultra 4.0”. “Saya sadari, hampir semua yang disebutkan tadi — terkecuali WN-SPC, w4c2, dan Forum SPTN — baru hadir sebatas pemikiran (rencana). Tapi, bukankah ‘hanya dari pemikiran yang benar, niscaya akan terwujud amal saleh’ (bukan ‘amal salah’ alias ‘akal-akalan’),” tandas Ibu muda yang juga adalah menantu Ir. Sayuti Asyathri (mantan anggota DPR-RI dan Ketua PAN : … – …).

Tampil di Gelanggang Politik Sultra (Menatap dari Kolaka)

Mengacu pada sejarah bangsa, sebagian besar “founding fathers/mothers” berkiprah di dunia politik sejak usia muda; salah satunya adalah Soekarno (Bung Karno). Pada usia 26 tahun, ia mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI). Selain itu ada pula Sutan Syahrir, yang mempelopori penyelenggaraan Kongres Pemuda Indonesia (sebagai cikal bakal “Sumpah Pemoeda 1928”). Fakta tersebut membuktikan bahwa, dalam sejarah Indonesia, panggung politik bukan hanya milik generasi tua, melainkan juga generasi muda.

“Dalam konteks Sultra, bukan hanya generasi muda yang wajib tampil di garda terdepan, tapi lebih dari itu adalah Generasi Muda Perempuan yang Energik dan Visioner,” tandas Mbak Inab yang akrab bergaul dengan siapa pun, termasuk dengan Kakanda Zainab Karbelani (ZK), seorang tokoh aktivis perempuan yang bermukim jauh di Kolaka. Mbak Inab sangat terkesan dengan sahabatnya sejak tahun …… itu. Betapa tidak? Kini, dalam usia muda, Kak ZK mampu berperan aktif sebagai tokoh (social business) yang memberdayakan potensi ekonomi kaum perempuan di Kolaka.

“Kalau saja Allah Swt. meridhoi saya untuk menjadi anggota DPR, saya akan menawarkan diri untuk urun rembug dengan teman-teman di Kolaka dalam rangka keberdayaan bersama, dengan prinsip dasarnya : ‘Integratif/Keterpaduan’ (agar efisien/efektif dan berdampak luas), sesuai dengan prinsip ‘Peradaban Sultra 4.0’,” bisik Mbak Inab dalam hati. Ia kemudian bertanya, bukankah pemimpin pertama Kerajaan Wolio (Buton) adalah seorang perempuan, yakni Ratu Wa Kâ Kâ? Lalu belum cukupkah kita disadarkan bahwa pejuang yang mendanai pembangunan Benteng Keraton Wolio (terluas di dunia) dan mendorong penguatan penggunaan mata uang Kampua (mata uang Kesultanan Buton) adalah juga seorang perempuan bernama “Wa Ode Wau”?

Realitas demikian yang kemudian antara lain memicu Mbak Inab terjun ke dunia politik, meski ia sudah terlebih dahulu mulai berkiprah sebagai Tenaga Ahli di DPR dan berkecimpung dalam aktifitas politik di Forum SPTN (juga sebagai wartawan/jurnalis di sejumlah media online).

Dalam pemahaman Mbak Inab, manusia adalah makhluk yang berpolitik (zoonpoliticon); sehingga tak ada alasan bagi perempuan dan generasi muda bersikap apatis terhadap politik, terutama yang terkait dengan penentuan (dan pelaksanaan) kebijakan publik dan penyelenggaraan negara.

Keterwakilan Perempuan di DPR-RI !!!

“Selama bertahun-tahun, sejak era reformasi, anggota DPR dari dapil Sultra tidak satu pun perempuan (apalagi perempuan muda). Padahal seharusnya komposisinya proporsional (minimal 30 persen),” urai Mbak Inab yang keturunan ke-… dari Sapati/Maha Patih La Singka (penandatangan Konstitusi Kesultanan Buton : “Martabat Tujuh” pada tahun 1610). Ia menambahkan, karena La Singka adalah pamanda dari Sultan Dayânu Ikhsanuddin/La Elangi (Sultan Buton IV), sedangkan isteri La Elangi adalah bangsawan Kolencusu, maka secara Ilahiah suara dan tangisan hati saya adalah seperti juga yang diresonansikan oleh seluruh masyarakat Kolencusu.

Menurut Mbak Inab, minimnya jumlah perempuan (dan absennya perempuan Sultra) di DPR pasti ada hubungannya dengan buruknya kualitas undang-undang (UU) yang terkait dengan perempuan. UU sejenis itu kurang mengakomodir aspirasi kaum perempuan, juga generasi muda milenial. Dalam pandangannya, naluri keperempuanan menggugah kesadaran perempuan untuk membuat produk perundang-undangan yang tidak bias gender.

“Kendati demikian, bagi saya, ketimpangan kuota perempuan tidak bisa dijadikan alasan utama untuk duduk di DPR, karena kesadaran memenuhi panggilan nurani untuk memperjuangkan nasib dan jeritan hati kaum perempuan jauh lebih mulia,” tegas Mbak Inab dengan raut muka agak sedih.

Lagi pula, lanjut Mbak Inab yang juga memiliki keterikatan batiniah dengan masyarakat di Buton Tengah,19 bukankah “semangat muda” para founding fathers/mothers seharusnya mampu kita injeksikan dalam diri kita yang juga masih muda (bahkan tergolong “generasi milenial”) ini?

“Sebagai putera daerah, saya merasa terpanggil untuk berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi Sultra. Saya yakin politik merupakan salah satu jalan efektif untuk mewujudkan hal tersebut, terutama melalui parlemen,” tandas Mbak Inab. Lebi lanjut, perempuan yang sempat berlibur di Belgia (di rumah tantenya, adik Aba Zul) usai mengikuti workshop-nya Prof. Nidal …. di Paris (…) — di bidang filsafat Islam — itu membayangkan, jika masyarakat Sultra memberikan amanah untuk duduk di DPR, tentu perjuangan mewujudkan gagasan “Peradaban Sultra 4.0” akan lebih optimistik, mengingat DPR diperlengkapi dengan fungsi-fungsi pengawasan, legislasi, dan juga penganggaran (budgeting).

“Saat memintakan dukungan soal rencana sebagai Caleg DPR, Tante Yusra (adik nenekku, Wa Ode Hasimah) — yang adalah menantu Daeng Mema [adik dari Irjen (Purn.) M. Yasin, Pahlawan Nasional 10 November 1945 dan Pendiri Brimob] — mengungkapkan rasa senangnya,” kata Mbak Inab. Tante Yusra bahkan berjanji akan menghubungi jejaring keluarga. Dukungan yang sama juga diberikan keluarga-keluarga Bugis lainnya yang, mohon maaf, nama mereka tak bisa disebutkan satu persatu di sini (semoga Allah Swt. membalas amal tulus mereka semua).

Bagi Mbak Inab, dukungan dari keluarga Bugis ini seakan merajut kembali tali persaudaraan Bugis-Buton. Betapa tidak, kakek Mbak Inab yang lapis ke-13 , yakni La Ode Arfani (Sapati/Maha Patih Bâluwu), adalah sepupu Raja Bone … , Arung Palakka. 20 Menurut orang Bugis, Arung Palakka adalah seorang pejuang/pahlawan sejati, tapi sejarah “hegemonik” Pemerintahan Orde Baru (penganut kebudayaan dominan) — yang penuh rekayasa militeristik — memfitnahnya sebagai penghianat. “Fitnah lebih keji daripada pembunuhan,” demikian sabda Baginda Rasulullah Muhammad Saww.

***

SEMENTARA itu, keluarga-keluarga di Kendari juga menyatakan dukungannya. “Meski hingga Oktober 2018, saya belum pernah berkunjung ke Kendari, tapi masyarakat Kendari cukup menyatu dengan qalbu-ku, karena kakekku, almarhum La Ode Abubakar (Aba Yi Kandari/Aba Ode), punya rumah di sana dan lama memberikan pelayanan sosial kepada masyarakat di sana, juga turut mendirikan Pabrik Rotan milik Puskud di Andonohu,” begitu Mbak Inab menjelaskan. Ia melanjutkan, sampai sekarang pun banyak keluargaku yang menjadi warga Kendari, di antaranya Tante Wa Ode Suarni, Tante Wa Ode Winesti Sofiani (keduanya adalah dosen di Unhalu), dan anak-anak dari Oma Wa Ode Muslimat.

“Tapi yang membuat saya sedih, di Kendari pula kakekku yang level ke-3, La Ode Taru (Lakina Liya), mati syahid (insya Allah) dieksekusi Tentara Jepang karena membela hak-hak rakyat yang tertindas,” papar Mbak Inab berkaca-kaca, meskipun sebagian orang Buton memuliakannya sebagai pahlawan/syuhada dengan aneka kisah karamah yang menyatu dengan diri beliau, terutama saat-saat dieksekusi. Padahal, lanjut Mbak Inab lagi, di (Kerajaan) Konawe ini pula leluhur La Ode Taru, Sultan Murhum, pernah berjasa dalam mendamaikan Kerajaan Konawe dan kerajaan Mekongga meski harus melalui perang selama delapan hari (halu oleo). Selain itu, pada tahun ……, Lakina Konawe diislamkan oleh utusan Sultan Buton ……… yang bernama La Ode Teke (…………………….).21

Wa Ode Zainab ZT memiliki latar belakang pendidikan Double Degree pada Program Magister (S2) : (1) Jurusan Islamic Philosophy di “Islamic College for Advanced Studies” (ICAS), Jakarta, cabang dari ICAS London; dan (2) Jurusan Studi Islam di Universitas Paramadina, Jakarta. Pendidikan linearnya merupakan lanjutan program S1, jurusan “Islamic Studies”, di ICAS Jakarta dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung (jurusan Aqidah-Filsafat). Meski menekuni bidang filsafat Islam dan agama, ia memiliki latar belakang pendidikan umum, jurusan IPA di SMAN 31 Jakarta, dengan sederet prestasi [ini merupakan kelanjutan dari, berturut-turut, SMPN 92 (Lab School FIP UNJ, Jakarta) dan SDN 05 Rawamangun, Jakarta]. Berbagai prestasi akademis maupun non-akademis dapat dilihat dalam CV.
Silahkan lihat CV. Beberapa di antaranya adalah pengalaman di HMI, BEM, “UZ-Women Organization”, “Forum Lembaga Legislatif Mahasiswa Indonesia” (FL2MI), Forum SPTN, dan “Philozone Indonesia”.
  • Menulis di sejumlah media massa cetak dan online, di antaranya liputanislam.com, islamindonesia.id, aktualpress.com, dan sorotparlemen.com (termasuk juga di harian Kompas).
  • Sejumlah makalah yang pernah ditulis dan event yang pernah dihadiri (termasuk di Paris, Kualalumpur, dan Tehran) dapat dibaca pada CV.

Silahkan lihat CV. Beberapa di antaranya adalah : Digital Library Research (ICAS-Jakarta); Supervisor (Conselor) pada Asrama Mahasiswa di STFI Sadra, Jakarta; wartawan/jurnalis (liputanislam.com, islamindonesia.id, aktualpress.com, dan sorotparlemen.com); Researcher of Nusantara Islamic History (Sadra International Institute); dan Tenaga Sekretariat pada “Muslimah Ahlulbait Indonesia”.
Dosen Filsafat Islam dan peneliti di STFI Sadra; juga Tenaga Ahli DPR-RI. (Lihat CV)

Keterangan:

  • Penjelasan tentang penyusunan konsep, perencanaan strategi, dan pelaksananaan proker Wa Ode Zainab ZT dapat dilihat pada bagian awal profil ini.
  • Forum SPTN akan menyelenggarakan Kuliah Umum rutin (secara periodik) untuk “membangun kesadaran” digital/komputer, terutama bagi kaum perempuan dan generasi muda/milenial. Termasuk dalam kegiatan ini adalah menyelenggarakan “video conference” (minimal setiap 3 bulan) mengenai perkembangan teknologi canggih yang paling mutakhir. Dalam hal ini akan diusahakan untuk ditampilkan presenter berpengalaman riset dengan publikasi internasional. Direncanakan, pada konferensi perdana akan tampil anggota keluarga/konsultan dari Wa Ode Zainab ZT yang identitasnya disebutkan pada bagian awal profil ini.
  • Untuk mendukung kiprahnya sebagai anggota DPR (kalau mendapat amanah), Wa Ode Zainab ZT juga akan membuat website (rumah digital) canggih pribadi dan Whastapp Group/Media Sosial khusus sebagai wahana untuk bermusyawarah dengan masyarakat dan para pemangku kepentingan di Sultra. Selain itu juga mendirikan Rumah Aspirasi di Sultra.
  • Implementasi dari program-program akan dilakukan secara bertahap dengan merujuk pada hasil kajian lebih lanjut.
  • Jangan mudah percaya dengan aneka program yang ditawarkan dalam kampanye. Cermatilah latar belakang Caleg dan potensi yang dimilikinya untuk merealisasikan program-programnya. (Khusus untuk Wa Ode Zainab ZT, silahkan lihat “III. SDMP Wa Ode Zainab ZT” dan “CV Wa Ode Zainab ZT”).
  • Dalam mewujudkan setiap proker, Wa Ode Zainab terlebih dahulu meminta kepada WN-SPC untuk mempublikasikan satu tulisan tentang tema/proker termaksud agar mendapatkan masukan publik. Selanjutnya dibuatkan konsep pengimplementasiannya untuk dikirimkan/didesakkan kepada para pembuat (dan pelaksana) kebijakan atau (calon) mitra strategis. Bila pelaksana kebijakan publik mengabaikan konsep itu, maka Wa Ode Zainab akan menyurati pelaksana (dan pembuat) kebijakan tersebut. Dan jika masih diabaikan juga, maka Wa Ode Zainab akan bersurat kepada DPRD (dan para pejabat publik terkait di tingkat pusat). Dan bila masih juga tidak diresponi, maka Wa Ode Zainab akan melakukan koordinasi dengan sejumlah organisasi mahasiswa dan LSM untuk melakukan demonstrasi (dengan cara-cara legal dan konstitusional).

A. Proker sebagai anggota DPR secara kelembagaan (kalau terpilih) :

  1. Selaku anggota komisi akan menjalankan fungsi/tugas rutin dengan senantiasa berusaha memperjuangkan kepentingan Sultra di level nasional/parlemen.
  2. Akan berusaha mempromosikan (potensi) Sultra di level internasional, terutama dengan memanfaatkan mekanisme “Badan Kerjasama Antar Parlemen” (……………..).
  3. Selaku anggota komisi akan berkunjung secara rutin (periodik) ke dapil Sultra untuk menyerap aspirasi masyarakat dan berdialog/berkonsolidasi dengan para penyelenggara pemerintahan serta pejabat publik di Sultra, kemudian memperjuangkannya di DPR.

B. Proker sebagai individu yang menjadi anggota DPR (kalau terpilih) dan akan berperan sebagai fasilitator/inovator/stimulator/motivator (sebagai Kitab dan Neraca : lihat “II. LPP-VM”) untuk :
(1). Memperkuat kedaulatan masyarakat Sultra dengan memanfaatkan teknologi digital.
(2). Pengentasan kemiskinan dengan memanfaatkan teknologi digital.
(3). Mengatasi masalah ketenagakerjaan dengan memanfaatkan teknologi digital.
(4). Memperjuangkan hak-hak kaum lansia, perempuan/anak, dan kesetaraan (keadilan) gender dengan memanfaatkan teknologi digital.

B.(1). Memperkuat kedaulatan masyarakat Sultra dengan memanfaatkan teknologi digital :

1. Pemberdayaan kebudayaan dan ekonomi daerah/masyarakat :
[a]. Mendirikan “Pusat Studi Peradaban Buton” (PSP-Buton), yang aktifitasnya antara lain :
(1). Membuat website canggih untuk mengakomodir seluruh program kerja Wa Ode Zainab ZT, di antaranya yang terkait dengan PSP-Buton (berikut media sosial pendukungnya, termasuk untuk Youtube), di mana di dalamnya dilengkapi antara lain fasilitas multimedia, sehingga setiap kegiatan penting PSP-Buton dapat dengan segera dipublikasikan. Silahkan bayangkan sendiri income yang akan didapatkan dari sini untuk menggerakkan kegiatan kebudayaan.
(2). Secara rutin (minimal 3 bulan sekali) menyelenggarakan kuliah umum kebudayaan, “Pidato Kebudayaan”, atau launching serta seminar buku sejarah dan kebudayaan. Tahap perdana menampilkan La Ode Zulfikar Toresano, Koordinator PSP-Buton dan Pemred WN-SPC, yang membahas dua buku karangannya : “Pancasila Menurut Kerajaan Wolio” dan “Pancasila Menurut Kesultanan Buton” dengan pembahas Prof. ………………….. Dari sini juga diharapkan akan dimulai berputarnya roda baru ekonomi komunitas (masyarakat), sebab di situ ada perputaran uang dan masyarakat Sultra juga diberi kesempatan untuk menjadi distributor buku-buku ke seluruh Indonesia; atau memberi peluang penerbit-penerbit kampus/lokal untuk menerbitkan buku-buku PSP-Buton. WN-SPC akan membantu digitalisasi promosi/sosialisasi GERAKAN KEBUDAYAAN ini, termasuk pemasaran buku-bukunya. (Contoh salah satu tagline : “Dengan Hadiah/Kado Buku, Kita Memuliakan Akal !!!”).
(3). Mengkondisikan dibentuknya kelompok-kelompok diskusi sejarah dan kebudayaan di seluruh Sultra, juga penguatan “Masyarakat Adat”. Di situ diperkenalkan strategi pemberian motivasi tertentu bagaimana membangun kreativitas untuk memberdayakan potensi-potensi lokal (berbasis budaya) agar bernilai bisnis.
(4). Mendirikan unit penerbitan buku sejarah dan kebudayaan (cetak maupun digital) dalam format ilmiah, popular, maupun cerita/komik/animasi/augmented reality. Penerbitan perdana : “Pancasila Menurut Kerajaan Wolio” dan “Pancasila Menurut Kesultanan Buton”; juga sejumlah buku KAPITA SELEKTA yang bahannya diambil (dengan diberi ulasan) dari Majalah Kebudayaan “Wolio Molagi”, yang dulu diterbitkan berseri oleh La Ode Abubakar, kakek Wa Ode Zainab ZT (edisi perdana : Maret 1999).
(5). Membuat Bank Data serta Sistem Informasi dan Telematika tentang sejarah dan kebudayaan di Sultra pada level ideofak (ide dasar), sosiofak (upacara adat/amal ritus), dan artefak (pemaknaan simbol-simbol). Tentu saja ini merupakan mesin bisnis yang menarik, di mana hasilnya (income) akan dimanfaatkan untuk pelestarian serta pengembangan kebudayaan dan kesejahteraan komunitas adat/pegiat kebudayaan.
(6). Mengsinergikan aktifitas pusat-pusat dokumentasi/perpustakaan dan museum-museum di Sultra (termasuk berbagai kegiatan pelestarian yang dilakukan masyarakat).
(7). Mendorong pendirian pusat pelatihan pembacaan naskah-naskah klasik/kuno warisan budaya dan penerjemahannya.
(8). Melakukan kajian sejarah dan kebudayaan dengan merujuk pada data dan informasi dari Bank Data, termasuk juga mengkaji nilai keekonomian dari pengintegrasian pelestarian/pengembangan budaya dengan kegiatan industri dan pariwisata.
(9). Membahas dan menyusun kurikulum lokal tentang sejarah dan kebudayaan untuk diajarkan di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi di Sultra.
(10). Mengkondisikan pembuatan kebijakan publik untuk melestarikan cagar budaya dan aneka warisan budaya : benda dan tak benda (tangible and intangible), di antaranya rumah-rumah adat, tempat-tempat peribadatan, benteng-benteng, aneka kegiatan ritual, dan upacara-upacara adat.
(11). Mendorong pendirian museum serta pusat pelatihan untuk pelestarian dan pertunjukkan seni serta kebudayaan di berbagai tempat. Termasuk dalam pelatihan ini adalah pembuatan aneka makanan tradisional, perahu tradisional, dan rumah adat. Juga adalah pelestarian permainan tradisional dan penyelenggaraan upacara-upacara adat/ritual.
(12). Mendorong pembentukan sanggar-sanggar seni dan budaya sebanyak mungkin, juga tempat-tempat permainan tradisional untuk anak.
(13). Mendorong pemberdayaan industri-industri kreatif dan kerakyatan yang terkait dengan pelestarian serta pengembangan kebudayaan.
(14). Mendorong terbentuknya unit-unit inkubasi/konsultasi untuk bisnis dan industri (industri kreatif) berbasisi kebudayaan (“Cultural-Preneurship”).
(15). Mendorong terbentuknya pusat promosi dan pemasaran produk bisnis serta industri kerakyatan/kebudayaan (tentu saja memanfaatkan teknologi digital).
[c]. Mendorong perguruan tinggi untuk membuka/memberdayakan fakultas-fakultas dan pusat-pusat studi kesejarahan serta kebudayaan dengan pelibatan para sejarawan, tokoh adat, dan budayawan lokal. Juga fakultas ilmu kelautan.
[d]. Mendorong perguruan tinggi untuk mendirikan usaha penerbitan buku, yang antara lain untuk menerbitkan buku-buku sejarah dan kebudayaan (cetak maupun digital) dalam format ilmiah, popular, maupun cerita/komik/animasi/augmented reality.

2. Pembenahan/perencanaan hubungan kerjasama :
(a). Antar kabupaten/kota di Sultra.
(b). Antara Provinsi Sultra (termasuk kabupaten/kota di dalamnya) dengan provinsi-provinsi lainnya (termasuk kabupaten/kota di dalamnya).
(c). Antara Provinsi Sultra (termasuk kabupaten/kota di dalamnya) dengan institusi non-pemerintah (di dalam dan luar negeri).
(d). Antara Provinsi Sultra (termasuk kabupaten/kota di dalamnya) dengan pemerintah negara-negara lain.

3. Pembenahan penyelenggaraan pemerintahan daerah/desa dan sistem bermasyarakat:
(a). Mendukung Forum SPTN untuk melakukan studi pembenahan dan penguatan penyelenggaraan pemerintahan daerah/desa.
(b). Pemantapan politik dan pengadministrasian Otonomi Daerah/Desa.
(c). Penegakkan demokrasi yang beradab/bertanggung jawab oleh pejabat publik.
(d). Pemantapan kesadaran berdemokrasi di kalangan masyarakat, yang dimulai dari pelajar dan mahasiswa.

4. Penguatan Hukum dan Hak Asasi Manusia :
(a). Pemantapan eksistensi Sultra sebagai bagian dari warga dunia yang menghormati hak asasi manusia secara universal dan sebagai bagian dari warga negara Indonesia yang menjunjung tinggi konstitusi dan hukum positif, serta nilai-nilai/hukum adat yang berlaku secara lokal (domestik).
(b). Pemantapan upaya penegakkan HAM bagi masyarakat.

5. Penguatan Pertahanan dan Keamanan Daerah/Desa :
(a). Pemantapan keamanan dan kenyamanan hidup bagi masyarakat.
(b). Pemantapan sistem keamanan swadiri/swakarsa.

B.(2). Pengentasan kemiskinan dengan memanfaatkan teknologi digital :

1. Kesetiakawanan sosial dan kesehatan :

(1). Mengkondisikan terselenggaranya diskusi/seminar rutin (berkala) mengenai : (a) Pengembangan tanggung jawab sosial antar sesama masyarakat secara bergotong royong; dimulai dari tingkat RT/RW, masyarakat adat, dan komunitas-komunitas keagamaan; dan (b) Peningkatan derajat/taraf kesehatan masyarakat.
(2). Memperjuangkan implementasi hasil diskusi/seminar.

Catatan :
Terkait dengan isu kesehatan, sebagai langkah pemula Wa Ode Zainab ZT akan memperjuangkan berdirinya klinik-klinik fisioterapi di setiap ibu kota kabupaten dan kota, mengingat klinik ini penting untuk penanganan bayi dan anak-anak, termasuk juga penyakit stroke (PS). Terlebih lagi PS merupakan paling banyak diderita masyarakat saat ini. Proposal tentang pendirian klinik tersebut sudah berada di tangan Wa Ode Zainab ZT. Dan jika program tahap pertama ini berhasil, akan dipikirkan lagi untuk didirikan di setiap kecamatan.

2. Pertanian, perikananan, dan kelautan (maritim) :

(a). Menggiatkan diskusi/seminar rutin untuk memantapkan Sultra sebagai provinsi agraris dan bahari (maritim). Pada seminar perdana, La Ode Zulfikar Toresano (Koordinator “Forum SPTN”) akan membahas pengembangan industri modern abon ikan.
(b). Mengoptimalkan kapasitas teknologi untuk usaha/industri-industri kecil di bidang pengolahan hasil pertanian dan hasil laut (juga industri kerajinan tangan yang terkait dengan pertanian dan kelautan).
(c). Menggiatkan diskusi/seminar rutin soal diversifikasi pangan (makanan pokok) dengan fokus pada pangan lokal.
(d). Menggiatkan diskusi mengenai industri pertanian dan kelautan terpadu (integrated agri and maritime industries), termasuk penguatan industri perahu tradisional (bisa disatukan dengan industri pembuatan rumah tradisional).
(e). Memperjuangkan implementasi hasil-hasil diskusi/seminar termaksud.

3. Energi alternatif (Renewable Technology) :

Penyelenggaraan diskusi/seminar rutin (minimal 3 bulan sekali) mengenai teknologi energi alternatif, sekaligus mengupayakan penerapannya.

4. Sistem jaminan penyelenggaraan pendidikan nasional di Provinsi Sultra :

(1). Mengkondisikan terselenggaranya diskusi/seminar rutin (berkala) mengenai : (a) Pengawasan terhadap penyelenggaraan sistem pendidikan nasional berbasis sekolah yang setara dan berkeadilan; dan (b) Keterkaitan dunia pendidikan dengan dunia usaha.
(2). Memperjuangkan implementasi hasil diskusi/seminar.

5. Reformasi manajemen aset daerah, BUMD (Badan Usaha Milik Daerah), BUMDes (Badan Usaha Milik Desa), dan BAZIS (Badan Amil, Zakat, Infaq, dan Sadaqah) :

Penyelenggaraan diskusi/seminar rutin (minimal 3 bulan sekali) mengenai reformasi manajemen objek-objek yang disebutkan di atas, kemudian mendorong pengimplementasiannya.

6. Penguatan industri jasa :
(a). Mengkondisikan penyelenggaraaan diskusi/seminar rutin (berkala) mengenai standardisasi mutu pelayanan industri jasa sesuai dengan prinsip pelayanan publik yang transparan dan akuntabel (juga dibahas soal peningkatan kapasitas teknologi).
(b). Memperjuangkan implementasi hasil diskusi/seminar.

7. Keterkaitan industri besar, menengah, kecil, koperasi, dan BUMDes (Badan Usaha Milik Desa) :

(1). Mengkondisikan terselenggaranya diskusi/seminar rutin (berkala) mengenai pengembangan : (a) Keterkaitan industri besar, menengah, kecil, koperasi, dan BUMDes; dan (b) Kondisi usaha yang sehat dan bersaing.
(2). Memperjuangkan implementasi hasil diskusi/seminar.

8. Jaminan sosial daerah/desa (jaring pengaman sosial) :

(a). Mengkondisikan terselenggaranya diskusi/seminar rutin (berkala) mengenai pengembangan jaminan sosial bagi masyarakat desa dan seluruh masyarakat Sultra.
(b). Memperjuangkan implementasi hasil diskusi/seminar.

B.(3). Mengatasi masalah ketenagakerjaan dengan memanfaatkan teknologi digital :

  1. Mengkondisikan terselenggaranya diskusi/seminar rutin (berkala) mengenai : (a) Penyusunan rencana daerah tentang pemberdayaan tenaga kerja (manpower planning); (b) Pembaruan kebijakan ketenagakerjaan daerah; (c) Peningkatan kualitas tenaga kerja; (d) Peningkatan kualitas hidup pekerja; dan (d) Pengembangan informasi dan komunikasi ketenagakerjaan.
  2. Memperjuangkan implementasi hasil diskusi/seminar.

B.(4). Memperjuangkan hak-hak kaum lansia, perempuan/anak, dan kesetaraan (keadilan) gender dengan memanfaatkan teknologi digital :

  1. Mengkondisikan terselenggaranya diskusi/seminar rutin (berkala) mengenai : (a) Peningkatan kualitas hidup lansia, perempuan, dan anak; (b) Penyempurnaan sistem pengarusutamaan gender secara terpadu; dan (c) Penegakkan hukum dan HAM berdimensi gender.
  2. Memperjuangkan implementasi hasil diskusi/seminar.


1
2
3
4
5
6
7
8
9 https://news.sorotparlemen.com/cyber-security-untuk-e-smart-ikm-dan-kesiapan-indonesia-menyongsong-era-industry-4-0/
10
11
12 https://news.sorotparlemen.com/gempa-di-sultra-dan-penciptaan-lapangan-kerja-local-wisdom-paradigm/
13 Konsep dasar “Peradaban Sultra 4.0” diambil dari desain besar “Industry 4.0”. Dan untuk ini Mbak Inab akan dibantu oleh “Forum Studi Politik dan Teknologi Nasional” (Forum SPTN), yang inspiratornya antara lain adalah Aba Zul dan salah seorang keluarganya berusia 28 tahun (peneliti “Smart Computing” dengan sejumlah publikasinya dalam berbagai jurnal internasional) yang disebutkan pada awal profil ini. Artikel-artikel mengenai “Industry 4.0” yang ditulis oleh Aba Zul (mantan dosen dan peneliti teknik industri/mesin) dapat dilihat dalam www.news.sorotparlemen.com pada fitur “Sci-Tech”.
14 Berbagai aktifitas Mbak Inab di bidang pemberdayaan perempuan dapat disimak dalam CV-nya (klik CV). Terlebih lagi ayahnya (Aba Zul) juga banyak menulis tema-tema perempuan, di antaranya berupa buku : “Kedudukan Wanita dalam Islam” (terjemahan : 1986; atas permintaan rekannya, Ketua PB-HMI Zulfan Lindan, yang kini adalah Ketua Partai NasDem) dan “Peran Perempuan Parlemen” (editor dan pembuat skema materi : 2007; atas permintaan Dra. Maimanah Umar, MA – Ketua Kaukus Perempuan Parlemen RI, 2004 – 2009).
15 Sebagai contoh awal, lihat https://news.sorotparlemen.com/gempa-di-sultra-dan-penciptaan-lapangan-kerja-local-wisdom-paradigm/
16 H. Djunaedi (Tomia) dan Supardi (Kaledupa) adalah mantan anggota DPRD Wakatobi.
17 Sejak tahun 1983 (berstatus mahasiswa), Aba Zul memberikan ceramah/training-training kepada sejumlah kelompok diskusi kader (di antaranya adalah anggota dan alumni HMI), baik yang diselenggarakan secara formal maupun informal, dengan tema-tema di seputar “Logika dan Filsafat Ketuhanan”, “Perbandingan Ideologi Internasional”, dan “Strategi dan Kebijakan Politik” (Islam, Nasional, dan Internasional/Barat). Untuk yang informal, kontribusi terpenting antara lain didapatkan dari Habib Zainal Abidin al-Muhdhor, Habib Omar Hashem Assegaf, dan Habib Ali bin Yahya (paman Habib Luthfi bin Yahya, ulama besar NU). Bersama sejumlah aktifis dan alumni HMI — yang senantiasa berkoordinasi dengan Habib Omar — Aba Zul mendirikan “Masyarakat Indonesia Baru”/MIB (tahun ’90-an), yang kemudian turut berkontribusi menumbangkan rezim Orde Baru. Para aktifis MIB juga menyelenggarakan diskusi rutin di rumah Habib Ali.
18 Tulisan-tulisan Aba Zul bertema sains dan teknologi dapat ditemui dalam www.news.sorotparlemen.com. Sejatinya, sejak tahun ’80-an, ia mulai menulis artikel sains di majalah “Aku Tahu” (saat berstatus sebagai mahasiswa teknik industri-jurusan mesin).
19 Lihat “Catatan Kaki” butir 7. Merujuk catatan kaki butir 7 ini, di mana Sultan ke-33 (La Ode Muhammad Asikin) memiliki pertalian darah dengan Sapati Lakudo, maka ada nalar sejarahnya bila suami Wa Ode Suarni (tantenya Mbak Inab), yakni Ir. Mansur Amila, M.Si., pernah menjadi Pjt. Bupati Buton Tengah.
20 Lihat “Catatan Kaki” butir 5.
21 Lihat ……………………………

_________________
13 Darah Muna yang bersenyawa dalam diri Wa Ode Zainab ZT dapat ditelusuri dari silsilah keluarga besarnya, di mana …………………….. Pamannya pun, yang bernama La Ode Ahmad Monianse (kini adalah Wakil Wali Kota Bau-Bau), memiliki genealogy Muna karena bapaknya (La Ode Abdul Madjid) — yang notabene masih sepupu dari nenek Mbak Inab (Wa Ode Hasimah) — dilahirkan oleh perempuan asal Muna (panggilannya : Ina Yi Raha).

 

 

The Official Social Media Link

| Facebook | Twitter | Instagram | LinkedIn | Website

Download CV

 

Facebook Comments