ZAINAB OH ZAINAB

Oleh Wa Ode Zainab Zilullah Toresano

1006349_316853958459841_1477896254_nPernahkah teman-teman bertanya kepada kedua orang tua, “Apa arti dari nama yang kalian sandang sekarang?” (atau minimal yang tertera pada KTP dan KK, hehe) Saya yakin pasti mereka punya alasan atas pemberian nama terhadap anak-anaknya. Terkadang ada yang berpendapat “apalah arti sebuah nama”, yang terpenting adalah “wujud orang tersebut”. Toh banyak juga orang yang bernama Muhammad, Isa, Fathimah, Asiyyah, Abdullah atau Musa, tapi pribadi mereka tidak seperti “figur penyandang” atau sesuai dengan “makna” dari nama tersebut. Namun, ada juga yang berpandangan bahwa “nama adalah do’a”. Terlebih lagi, dalam perkembangan setiap peradaban besar ternyata mengenal “ilmu angka dan huruf”. Dalam dunia filsafat dan tasawuf dipaparkan bahwa setiap angka dan huruf memiliki ruh yang mempengaruhi pemilikinya.

Ketika kecil, saya sangat penasaran mengapa Bunda dan Aba memberi nama saya “Wa Ode Zainab Zilullah Toresano” atau dipanggil “Zainab”. Butuh pembahasan yang panjang bila menuliskan latar belakang nama lengkap saya. Tapi, saya sangat teriang dengan pemaparan Bunda dan Aba tentang alasan mengapa saya diberi nama “Zainab”. Pada akhirnya, saya pun tak mau dipanggil “Zainab” setelah mengetahui harapan kedua orang tua yang terwejantahkan pada nama “Zainab”. Please, cukup panggil saya “Inab”!

Bunda dan Aba mengungkapkan bahwa mereka berdo’a kepada Alla SWT agar anak pertamanya memiliki pribadi seperti Sayyidah Zainab, cucunda Rasulullah SAW. Tahukah teman-teman tentang sosok beliau? Rasulullah begitu gembira saat dikabarkan kelahiran Zainab dan berkata, “Allah swt memerintah agar nama anak perempuan ini diberi nama Zainab yang artinya hiasan ayahnya.” Rasulullah saw kemudian menggendong Zainab dan menciumnya lalu berkata, “Saya mewasiatkan kepada kalian semua agar menghormati anak perempuan ini, karena ia mirip Sayyidah Khadijah as.” Begitulah pengantar kedua orang tua kepada saya.

Zainab adalah saksi hidup kezaliman pada era Rasulullah, ibunya, ayahnya, dan saudaranya. Berbagai kejadian dan peristiwa agung pernah disaksikannya. Sejak kecil Sayyidah Zainab as telah kehilangan kakeknya Nabi Muhammad saw dan tidak berapa lama beliau harus kehilangan ibu tercintanya Sayyidah Fathimah as. Setelah itu, ia dididik oleh Imam Ali as. sehingga beliau mencapai derajat keilmuan yang tinggi dan keutamaan akhlak. Maqom itu diraihnya ketika mayoritas wanita di masa itu buta huruf dan tidak punya kesempatan untuk belajar.

Sayyidah Zainab as setelah menimba ilmu dari ayahnya kemudian mulai menyebarkan agama Islam dan mengajarkan ilmu-ilmu yang dikuasainya kepada kaum hawa waktu itu. Para wanita berduyun-duyun memintanya untuk diperbolehkan hadir dalam majelis pelajaran dan tafsir Al-Quran.

Kondisi paling riil untuk mengenal secara mendalam kepribadian Sayyidah Zainab as adalah dengan mempelajari sejarah Asyura. Seorang perempuan yang sulit dicari bandingannya dalam sejarah Islam. Mengingat Allah dan shalat menjadi penenangnya. Cahaya ilahi begitu menerangi hatinya, sehingga segala penderitaan yang dihadapinya menjadi tidak berarti. Sayyidah Zainab as di puncak kesulitan dan penderitaan setelah syahadah saudara dan orang-orang tercintanya masih tetap tegar berkata dan derajat kesabaran, keberanian, dan tawakkalnya kepada Allah yang telah tertanam dalam dirinya didemonstrasikan dengan indah. Sayyidah Zainab as berkata kepada orang-orang zalim, “Saya tidak menyaksikan sesuatu kecuali keindahan.”

Kemampuan beliau dalam menjelaskan kebenaran begitu mempesona. Sayyidah Zainab dengan suara lantang dan dalam kondisi menangis berkata, “Ayah dan ibuku menjadi tebusan kalian orang-orang tua terbaik di antara mereka yang lanjut usia, anak-anak kecil terbaik di antara mereka yang masih kecil dan wanita-wanita kalian adalah yang terbaik. Generasi kalian lebih tinggi dan lebih baik dari semua generasi yang ada dan kalian tidak pernah terkalahkan.”

Nah, saya yang kala itu masih belia begitu tercengang mendengar penjelasan kedua orang tua saya tentang Sayyidah Zainab. Kata-kata yang hingga sekarang masih teringat adalah “Bunda dan Aba selalu berdo’a agar pribadi kamu seperti Sayyidah Zainab, minimal jadikanlah beliau sebagai figur.”

Wahai Bunda dan Aba tercinta, maafkan anakmu ini yang masih jauh dari nama yang aku sandang…. Maafkan anakmu yang belum bisa mewujudkan doa indah kalian….

Zainab oh Zainab….

Facebook Comments

Topik Tarkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.

18 + six =